Ditulis oleh Ghina Nor Asyita—Jurnalis Smansa
Bahasa Indonesia bukan hanya sarana untuk berbicara, tetapi juga cerminan dari jati diri bangsa. Karena itu, penting bagi generasi muda untuk memiliki kemampuan berbahasa yang baik secara lisan maupun tulisan.

Siswa SMAN 1 Banjarbaru bersama guru pendamping dan perwakilan Balai Bahasa berfoto bersama usai pelaksanaan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI)
Kesadaran inilah yang melahirkan UKBI (Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia), sebuah tes resmi yang dikembangkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Tes ini menjadi salah satu cara untuk mengetahui sejauh mana keterampilan seseorang dalam menggunakan bahasa Indonesia, baik pelajar, masyarakat umum, hingga penutur asing.
Bahasa Indonesia memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita berbicara, menulis, bahkan berpikir dengan bahasa ini sejak kecil. Namun, kedekatan itu tidak otomatis menjamin kemahiran. Meski sudah akrab, apakah kemampuan kita benar-benar sudah teruji dengan baik? Pertanyaan inilah yang kemudian dijawab melalui UKBI, dengan pengukuran menyeluruh yang mencakup keterampilan mendengarkan, membaca, menulis, dan berbicara.
Keseriusan untuk mengukur kemahiran berbahasa itu terlihat di SMA Negeri 1 Banjarbaru. Pada Rabu (30/8/2025), sekolah ini kembali menggelar UKBI bagi peserta didik kelas XII. Melalui kolaborasi dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, ujian ini dirancang untuk menilai sejauh mana kecakapan berbahasa Indonesia yang dimiliki oleh para siswa.
Dengan mengusung tema “UKBI Teruji Lebih Terpuji,” pelaksanaan tes kali ini tidak hanya ditujukan untuk evaluasi akademis, tetapi juga untuk pembentukan karakter. Hal ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan keseimbangan antara kompetensi dan akhlak. Tak heran jika 100 peserta didik terlihat antusias mengikuti tes.
Meski berjalan lancar, pelaksanaan UKBI kali ini tetap menyisakan beberapa kendala. Gangguan teknis sempat terjadi, mulai dari server yang macet hingga jaringan internet yang lambat, sehingga sebagian peserta harus menunggu lebih lama untuk mengakses soal. Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah menyediakan tablet pinjaman bagi peserta yang tidak memiliki perangkat sesuai standar. Dengan langkah ini, tes tetap bisa berlangsung dengan baik meski ada kendala teknis yang muncul.

Suasana pelaksanaan UKBI, siswa terlihat berkonsentrasi menjawab soal yang disajikan.
Di balik pelaksanaan UKBI, beberapa pengalaman menarik datang dari peserta dan guru pendamping. Rijaldiin Chizama Kamil, siswa yang meraih nilai tertinggi, mengaku soal-soalnya cukup menantang. “Bukan sulit, tapi lebih membingungkan karena jawabannya sering mirip-mirip,” ungkapnya.
Menurutnya, mengikuti UKBI bukan hanya sekadar menjalani sebuah tes, melainkan juga pengalaman yang memberikan banyak pelajaran berharga. Ia merasa bahwa melalui ujian ini, siswa dilatih untuk lebih serius, tekun, dan teliti dalam memahami soal. “Pelajarannya, kita jadi dituntut belajar lebih giat untuk mendapat hasil terbaik. Saya sendiri tidak ikut bimbel, belajar otodidak saja. Tips dari saya, kerjakan dengan teliti karena kadang jawabannya hanya berbeda satu atau dua kata,” tambahnya.
Dari sisi guru pendamping, Muhammad Asrori, S.Pd., selaku guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Banjarbaru, menuturkan bahwa proses seleksi peserta UKBI dilakukan secara terbuka dan transparan. Ia menjelaskan, pihak sekolah mendapat kuota sebanyak 100 orang dari Balai Bahasa. Untuk memudahkan, ia membuat Google Form agar siswa yang berminat dapat mendaftar secara mandiri. Dengan cara ini, peserta yang akhirnya mengikuti tes benar-benar berasal dari mereka yang memiliki kemauan dan motivasi sendiri, bukan karena paksaan. “Dari Balai Bahasa kita mendapat kuota 100 orang. Saya buatkan Google Form agar siswa yang berminat bisa mendaftar sendiri. Jadi, yang ikut memang mereka yang benar-benar punya kemauan,” jelasnya.
Sementara itu, Ahmad Zaini, Widyabasa Ahli Muda Balai Bahasa, menekankan bahwa sertifikat UKBI memiliki nilai lebih bagi siswa. “Sertifikat UKBI bisa dipakai untuk berbagai keperluan, misalnya melamar beasiswa. Ini bukti kemampuan bahasa yang diakui secara resmi,” tuturnya. Lebih jauh, hasil tes juga menjadi bahan evaluasi penting bagi sekolah untuk melihat sejauh mana pembelajaran bahasa Indonesia selama ini berjalan efektif.
Dengan pelaksanaan yang terus diperbaiki dari tahun ke tahun, SMA Negeri 1 Banjarbaru berharap UKBI dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan pada bahasa Indonesia, memperkuat jati diri sebagai Pelajar Pancasila, serta membekali peserta didik agar siap menghadapi tantangan pendidikan maupun dunia kerja di masa depan.




